Kamis, 25 Oktober 2012

Tugas 2 Manusia dan keindahan


MANUSIA DAN KEINDAHAN


Keindahan adalah suatu kelebihan mutlak yang dimiliki oleh setiap manusia. Allah menciptakan manusia dengan segala keindahan dan kelebihan yang diberikan olehnya. Keindahan itu bisa terlihat dan terpancar dari luar maupun dari dalam. Keindahan seseorang tidak serta merta karna kecantikan atau ketampanan dari orang tersebut karna keindahan seorang manusia sebenarnya adalah yang datang nya dari hati manusia tersebut. Namun kebanyakan orang melihat keindahan seseorang tersebut dari fisik , ataupun wajah. Padahal dengan wajah yang diciptakan oleh Allah sedemikian rupa kalau kita bisa mensyukuri segala apa yang diberikan olehnya, kita pun bisa terlihat indah apa adanya .

Cantik
 Itu lah yang biasa dikatakan sebagai kesamaan dari kata Keindahan. Padahal tidak selalu seperti itu ,Manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang di milikinya. Terkadang ketika manusia merasa tidak puas dengan fisiknya mereka bisa melakukan apa saja untuk memperindah tubuhnya dengan cara-cara instan , Misalnya saja operasi plastik. Operasi plastik memang sudah tidak menjadi keanehan didunia saat ini apalagi dengan segala tuntutan yang terjadi didunia entertaiment yang mewajibkan para pemainnya untuk tampil sempurna dengan kecantikan yang instan. Para pemain itu pun mau tidak mau memang harus melakukan operasi plastik demi penampilan yang sempurna agar bisa terlihat lebih indah dihadapan para fans nya . Memang banyak dari mereka yang terlihat lebih indah setelah melakukan operasi plastik namun tidak jarang yang gagal atau malah semakin rusak setelah melakukan operasi plastik dan akhirnya mereka justru menyesal. Manusia memang butuh sesuatu yang menarik agar bisa terlihat indah dihadapan orang banyak, namun hal seperti inilah yang wajib kita jadikan pembelajaran. Keindahan manusia tidak hanya dilihat dari fisik saja tetapi juga dari hatinya . Kalau fisik manusia itu sempurna tetapi dalam perilaku dan sifat manusia itu sangat buruk , manusia itupun tidak bisa dikatakan manusia yang memiliki keindahan . Namun sebaliknya jika fisik manusia itu biasa saja namun ada hal yang menarik dari dalam dirinya yang terpancar karna kebaikan , kesantunan sikap dan perilakunya maka orang tersebut bisa dikatakan sebagai manusia yang mempunyai keindahan dari dalam hatinya. Manusia khususnya perempuan memang butuh riasan untuk mempercantik diri namun perlu diingat ada baik nya kita memakai atau menggunakan riasan tersebut dengan tidak berlebihan dan sewajarnya saja.  Jangan sampai kita terlalu berlebihan sehingga menjadi orang yang tidak bersyukur atas apa yang diberikan .

Lalu bagaimana cara manusia agar bisa terlihat indah dengan hatinya?
Berikut adalah beberapa pesan menurut pemahaman saya:
1.     Be your self ( Jadilah diri-sendiri)



Dengan manusia menjadi diri nya sendiri , manusia itu sudah memiliki nilai plus dimata orang lain karena manusia bisa terlihat mempunyai keunikan tersendiri yang tidak bisa dimililki orang lain. Jangan meniru gaya ataupun ingin menjadi orang lain karena tidak percaya diri yang membuat diri kita tidak percaya diri. Yakinlah bahwa kamu bisa menjadi manusia yang apa adanya dan tunjukkan lah siapa kamu sebenarnya dengan bakat dan kemampuan yang kamu miliki ,yang bisa menginspirasi orang lain. Dan jadikanlah dirimu inspirasi bagi orang banyak.
2.    Bersikaplah yang santun dan selalu berbuat baik

Dengan kita bersikap santun kepada setiap orang kita jadi bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Orang lain pun akan ikut bersikap yang sama kepada kita . Dan Jangan lupa untuk selalu berbuat kebaikan pada setiap orang disekitar kita . Tetapi ingat jangan pernah berpura-pura dalam berbuat baik , karna keindahan yang sesungguhnya adalah yang datangnya dari hati. Jika ketulusan itu datang nya dari hati maka orang lain akan melihat keindahan kita yang terpancar dari setiap kebaikan yang kita berikan misal memberi makan fakir miskin, menyantuni anak yatim. Dan janganlah sombong karna kesombongan tidak akan membuat kita semakin terhormat dimata orang, justru orang akan memandang kita dengan sebelah mata.
3.    Tersenyum


Sekali lagi senyum itu adalah ibadah, dengan kita tersenyum kita akan berbagi keindahan dengan orang banyak, Dengan senyum orang akan melihat kita sebagai manusia yang selalu ramah dan baik , senyum akan membuat manusia 99% lebih indah dari pada sebelumnya. Karna senyum adalah keindahan yang datangnya dari hati
4.    Selalu bersyukur

Manusia yang selalu bersyukur adalah manusia yang selalu menikmati segala karunia yang diberikan. Memang tidak ada manusia yang sempurna , setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan , Untuk kekurangan nya jadikan kekurangan kita sebagai kelebihan yang tidak orang lain miliki . Begitu keindahan dari dalam hati kita pun akan terpancar apa adanya.

Inti nya adalah.. Keindahan yang sesungguhnya adalah yang terpancar dari dalam hati manusia itu . Jangan dengarkan kata orang yang tidak menyukaimu, karna mereka sesungguhnya adalah manusia yang selalu memperhatikan kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu ,jadikan dirimu inspirasi bagi orang lain dengan apa adanya dirimu maka orang lain akan melihatmu indah.

 
Sekian dan terimakasih :)
SEMOGA BERMANFAAT ^^ .
All pictures is from google :)

Tugas 2 (Manusia dan Penderitaan)


MANUSIA DAN PENDERITAAN

Manusia dan penderitaan , arti kata penderitaan sebetulnya adalah kata-kata sederhana yang pasti pernah dirasakan setiap manusia. Penderitaan disini biasanya datang karena suatu permasalahn yang datang dan terjadi didalam kehidupan manusia . Biasanya permasalahan-permasalahan itu bisa datang karena suatu hal , misalnya dalam hal ekonomi , masalah kemiskinan, masalah sosial , ataupun masalah personal yang datang dari diri sendiri.
Di Indonesia khususnya di Jakarta saja misalnya masih banyak manusia yang mengalami penderitaan dalam kehidupannya. Pernah saya melihat dalam salah satu tayangan di televisi , ada sebuah keluarga di daerah Jakarta , entah karna masalah ekonomi atau karna masalah sosial seorang ibu tega membakar kedua anaknya yang masih balita didalam sebuah kamar mandi dan beserta dirinya .Dia hanya meninggalkan selembar kertas yang ditemukan yang bertuliskan “saya tidak mampu lagi menahan semua masalah ini” .Hati manusia mana yang tidak tersentuh membaca sepucuk surat tersebut , tetapi mengapa ia tega membakar kedua anaknya untuk ikut kedalam masalah yang dihadapi. Hal inilah yang perlu disikapi oleh pemerintah. Karna semakin banyak beban ekonomi yang semakin besar maka sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penderitaan juga bisa timbul bukan hanya dari luar maupun dari dalam .Namun kita sebagai manusia harus bisa menyikapi nya . Contoh kecil saja penderitaan dari dalam , biasanya datang dari hati / batin yang terkadang tidak bisa diucapkan oleh kita tetapi sangat sesak didalam hati . Misalnya saat seorang manusia yang tidak punya sanak saudara ataupun teman dalam hidupnya ketika ia didapatkan suatu masalah ia tidak bisa menceritakan kepada siapa-siapa itu yang busa membuat si manusia itu merasakan penderitaan secara batin karna ia merasa tidak punya siapa-siapa dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Tapi seharusnya manusia masih bisa berfikir dan memahami sebelum ia bertindak nekat (bunuh diri) karna , dengan ia bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah malah akan menambah penderitaan si keluarga yang ditinggalkan . Belum berakhir disitu , manusia yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri akan mendapatkan dosa yang sangat besar dan penyiksaan yang lebih kejam dari apapun di akhirat. Naudzubilah, jangan sampai kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang seperti itu.

Lalu apa sebenarnya hubungan manusia dengan penderitaan?..
Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dialah yang maha kuasa atas segala yang ada isi jagad raya ini. Beliau menciptakan mahluk yang bernyawa dan tak bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan penderitaan.
Mahluk bernyawa memiliki sifat ingin tepenuhi segala hasrat dan keinginannya. Perlu di pahami mahluk hidup selalu membutuhkan pembaharuan dalam diri, seperti memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan hidup, membutuh air dan udara. Dan membutuhkan penyegaran rohani berupa ketenangan. Apa bila tidak terpenuhi manusia akan mengalami penderitaan. Dan bila sengaja tidak di penuhi manusia telah melakukang penganiayaan. Namun bila hasrat menjadi patokan untuk selalu di penuhi akan membawa pada kesesatan yang berujung pada penderitaan kekal di akhirat.

Manusia sebagai mahluk yang berakal dan berfikir, tidak hanya menggunakan insting namun juga pemikirannya dan perasaanya. Tidak hanya naluri namun juga nurani.

Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling mulia namun manusia tidak dapat berdiri sendiri secara mutlah. Manusia perlu menjaga dirinya dan selalu mengharapkan perlindungan kepada penciptanya. Manusia kadang kala mengalami kesusahan dalam penghidupanya, dan terkadang sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi penghidupanya.

Manusia memerlukan rasa aman agar dirinya terhidar dari penyiksaan. Karena bila tidak dapat memenuhi rasa aman manusia akan mengalami rasa sakit. Manusia selau berusaha memahami kehendak Allah, karena bila hanya memenuhi kehendak untuk mencapai hasrat, walau tidak menderita didunia, namun sikap memenuhi kehendak hanya akan membawa pada pintu-pintu kesesatan dan membawa pada penyiksaan didalam neraka.

Manusia didunia melakukan kenikmatan berlebihan akan membawa pada penderitaan dan rasa sakit. Muncul penyakit jasmani juga terkadang muncul dari penyakit rohani. Manusia mendapat penyiksaan di dunia agar kembali pada jalan Allah dan menyadari kesalahanya. Namun bila manusia tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri maka akan membawa pada pederitaan di akhirat.

Banyak yang salah kaprah dalam menyikapi penderitaan. Ada yang menganhap sebagai menikmati rasa sakit sehingga tidak beranjak dari kesesatan. Sangat terlihat penderitaan memiliki kaitan dengan kehidupan manusia berupa siksaan, kemudian rasa sakit, yang terkadang membuat manusia mengalami kekalutan mental. Apa bila manusia tidak mampu melewati proses tersebut dengan ketabahan, di akherat kelak dapat menggiring manusia pada penyiksaan yang pedih di dalam neraka.
Tentunya lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi penderitaan yang kita alami?
Menyikapi suatu permasalahan yang menyebabkan penderitaan memanglah tidak mudah. Disini perlu di butuhkan sikap yang bijak dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Masalah yang dihadapi memang berat namun bagaimana kita menyikapi masalah itu dan bagaimana cara kita agar diri kita selalu tenang walaupun sedang dirundung masalah.
1.     Dekatkan diri pada yang maha kuasa ( Allah swt)

Saat dirundung masalah, tentunya hal yang pertama kali kita lakukan adalah berdoa kepada Allah, minta petunjuk dengan sholat tahajud, zikir , minta lah jalan kepadanya bahwa dia-lah yang maha  kuasa. Ceritakan semua permasalahanmu kepadanya karna hanya dia-lah yang mampu membuat hatimu menjadi tenang dan merasa lebih nyaman, insya allah ini cara yang efektif untuk menyikapi masalah. Jangan pernah katakan bahwa “ Ya Allah masalahku sangat besar”. Tapi katakanlah “ Wahai MASALAH Allah itu maha besar “.
2.    Berusaha melakukan yang terbaik

Bagaimanapun manusia hanyalah manusia , yang memiliki segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Untuk itu selalu lah berbuat kebaikan , jika melihat suatu masalah menghampiri kita . Jangan jadikan masalah sebagai duri kaktus dalam hidupmu tapi jadikan maslaah dan penderitaan itu adalah sebagai duri kaktus yang akan berbunga cantik nantinya. Artinya Allah memang tidak selalu langsung memberikan apa yang kita inginkan tetapi Allah pasti mempunyai cara lain untuk mengabulkan doa kita dan semuanya butuh proses.
Sekian materi manusia dan penderitaan mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penulisan .
3.  Selalu semangat

Manusia hidup terkadang memang tidak selalu diatas ,, terkadang kita pasti pernah merasakan saat-saat sangat terpuruk atau ada kalanya kita dibawah. Namun semua masalah yang kita alami jangan lah dijadikan sebagai hal yang sangat membuat kita putus asa ataupun membuat kita menderita. Justru dengan ada nya masalah-masalah yang datang terkadang Allah semakin sayang dengan hambanya karna dengan datangnya masalah itu sebenarnya Allah sedang menegur hambanya untuk mengintrospeksi diri atau membuat hambanya semakin kuat. Bagaimana cara kita menyikapinya adalah dengan selalu bersemangat  dan jangan pernah menyerah menjalani hidup karna hidup adalah perjuangan / proses mencapai suatu kesuksesan . Memang sulit tetapi kita harus selalu berdoa , berusaha , dan bersemangat mencapai kesuksesan itu agar bisa terhindar dari segala penderitaan.


Dan yang paling terpenting adalah selalu BERSYUKUR atas apa yang diberikan olehnya. Dan mensyukuri nikmatnya :)

Terimakasih :) semoga bermanfaat.

Sumber/Referensi:
http://arfanart.wordpress.com/2012/06/13/manusia-dan-penderitaan/

Jumat, 19 Oktober 2012

Suku toraja (Tugas Softskill) Univ.Gunadarma




SUKU TORAJA

Alasan mengapa saya memilih suku toraja sebagai bahan dari Tugas Mata Kuliah SoftSkill karena suku ini merupakan suku terunik yang pernah saya temui walaupun tidak melihat secara langsung tapi ulasan dan penjelasannya tentang orang-orang didalamnya sangat menarik perhatian saya. Berikut adalah gambaran mengenai suku toraja.
Sejarah


Dulu ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan, adalah tempat asal suku Toraja.Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penuture bahasa Austronesia. Awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda.Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut.Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.
Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan yang menguntungkan Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam, Kristen ProtestanKatolik,Hindu dan Buddha.Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Masyarakat
Keluarga

Sebuah perkampungan suku Toraja
Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuat hubungan kekerabatan.Suku Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta. Hubungan kekerabatan berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling membayarkan hutang.
Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya. Anak, dengan demikian, mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah dan bahkan utang keluarga. Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal. Nama bibi, paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan saudara kandung.
Sebelum adanya pemerintahan resmi oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja, masing-masing desa melakukan pemerintahannya sendiri. Dalam situasi tertentu, ketika satu keluarga Toraja tidak bisa menangani masalah mereka sendiri, beberapa desa biasanya membentuk kelompok; kadang-kadang, bebrapa desa akan bersatu melawan desa-desa lain Hubungan antara keluarga diungkapkan melalui darah, perkawinan, dan berbagi rumah leluhur (tongkonan), secara praktis ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual. Pertukaran tersebut tidak hanya membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga menempatkan masing-masing orang dalam hierarki sosial: siapa yang menuangkan tuak, siapa yang membungkus mayat dan menyiapkan persembahan, tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk, piring apa yang harus digunakan atau dihindari, dan bahkan potongan daging yang diperbolehkan untuk masing-masing orang.
Kelas Sosial
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak (perbudakandihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tingi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alasan martabat keluarga. Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.
Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.
Agama

Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan animisme politeistik yang disebut aluk, atau "jalan" (kadang diterjemahkan sebagai "hukum"). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta. Alam semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah.Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi),Indo' Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo' Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.
Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman, disebut to minaa (seorang pendeta aluk).Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya. Ketika ada para misionaris dari Belanda, orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi diizinkan melakukan ritual kematian.Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini, tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.
Kebudayaan
 Tongkongan


Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon ("duduk").
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

Ukiran Kayu

Ukiran kayu Toraja: setiap panel melambangkan niat baik.
Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Untuk menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Pa'ssura (atau "tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja (lihat desain tabel di bawah), selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri.Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris.
Beberapa motif ukiran Toraja
http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf12/skins/common/images/magnify-clip.png
pa'tedong
(kerbau)
http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf12/skins/common/images/magnify-clip.png
pa'barre allo
(matahari)
http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf12/skins/common/images/magnify-clip.png
pa're'po' sanguba
(menari)
http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf12/skins/common/images/magnify-clip.png
ne'limbongan
(perancang legendaris)

Upacara Pemakaman

Tempat penguburan Toraja yang diukir.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawanyang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.


Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.
Musik dan Tarian
Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma'badong). Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman. Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma'randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma'randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma'katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. TarianMa'akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma'dondan.
http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf12/skins/common/images/magnify-clip.png
Tarian Manganda' ditampilkan pada ritual Ma'Bua'.
Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma'gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.
Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma'bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.
Bahasa
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat,akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain KalumpangMamasaTae' , Talondo' , Toala' , dan Toraja-Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasaAustronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.

Ekonomi
Sebelum masa Orde Baru, ekonomi Toraja bergantung pada pertanian dengan adanya terasering di lereng-lereng gunung dan bahan makanan pendukungnya adalah singkong danjagung. Banyak waktu dan tenaga dihabiskan suku Toraja untuk berternak kerbaubabi, dan ayam yang dibutuhkan terutama untuk upacara pengorbanan dan sebagai makanan.Satu-satunya industri pertanian di Toraja adalah pabrik kopi Jepang, Kopi Toraja.
Dengan dimulainya Orde Baru pada tahun 1965, ekonomi Indonesia mulai berkembang dan membuka diri pada investasi asing. Banyak perusahaan minyak dan pertambanganMultinasional membuka usaha baru di Indonesia. Masyarakat Toraja, khususnya generasi muda, banyak yang berpindah untuk bekerja di perusahaan asing. Mereka pergi keKalimantan untuk kayu dan minyak, ke Papua untuk menambang, dan ke kota-kota di Sulawesi dan JawaPerpindahan ini terjadi sampai tahun 1985.
Ekonomi Toraja secara bertahap beralih menjadi pariwisata berawal pada tahun 1984. Antara tahun 1984 dan 1997, masyarakat Toraja memperoleh pendapatan dengan bekerja dihotel, menjadi pemandu wisata, atau menjual cinderamata. Timbulnya ketidakstabilan politik dan ekonomi Indonesia pada akhir 1990-an (termasuk berbagai konflik agama di Sulawesi) telah menyebabkan pariwisata Toraja menurun secara drastis. Toraja lalu dkenal sebagai tempat asal dari kopi Indonesia. Kopi Arabika ini terutama dijalankan oleh pengusaha kecil.
Komersialisasi

http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf12/skins/common/images/magnify-clip.png
Makam suku Toraja di tebing tinggi berbatu adalah salah satu tempat wisata di Tana Toraja.
Sebelum tahun 1970-an, Toraja hampir tidak dikenal oleh wisatawan barat. Pada tahun 1971, sekitar 50 orang Eropa mengunjungi Tana Toraja. Pada 1972, sedikitnya 400 orang turis menghadiri upacara pemakaman Puang dari Sangalla, bangsawan tertinggi di Tana Toraja dan bangsawan Toraja terakhir yang berdarah murni. Peristiwa tersebut didokumentasikan oleh National Geographic dan disiarkan di beberapa negara Eropa. Pada 1976, sekitar 12,000 wisatawan mengunjungi Toraja dan pada 1981, seni patung Toraja dipamerkan di banyak museum di Amerika Utara. "Tanah raja-raja surgawi di Toraja", seperti yang tertulis di brosur pameran, telah menarik minat dunia luar..
Pada tahun 1984, Kementerian Pariwisata Indonesia menyatakan Kabupaten Toraja sebagai primadona Sulawesi Selatan. Tana Toraja dipromosikan sebagai "perhentian kedua setelah Bali".[5] Pariwisata menjadi sangat meningkat: menjelang tahun 1985, terdapat 150.000 wisatawan asing yang mengunjungi Tana Toraja (selain 80.000 turis domestik), dan jumlah pengunjung asing tahunan tercatat sebanyak 40.000 orang pada tahun 1989. Suvenir dijual di Rantepao, pusat kebudayaan Toraja, banyak hotel dan restoran wisata yang dibuka, selain itu dibuat sebuah lapangan udara baru pada tahun 1981.
Para pengembang pariwisata menjadikan Toraja sebagai daerah petualangan yang eksotis, memiliki kekayaan budaya dan terpencil. Wisatawan Barat dianjurkan untuk mengunjungi desa zaman batu dan pemakaman purbakala. Toraja adalah tempat bagi wisatawan yang telah mengunjungi Bali dan ingin melihat pulau-pulau lain yang liar dan "belum tersentuh". Tetapi suku Toraja merasa bahwatongkonan dan berbagai ritual Toraja lainnya telah dijadikan sarana mengeruk keuntungan, dan mengeluh bahwa hal tersebut terlalu dikomersilkan. Hal ini berakibat pada beberapa bentrokan antara masyarakat Toraja dan pengembang pariwisata, yang dianggap sebagai orang luar oleh suku Toraja.
Bentrokan antara para pemimpin lokal Toraja dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (sebagai pengembang wisata) terjadi pada tahun 1985. Pemerintah menjadikan 18 desa Toraja dan tempat pemakaman tradisional sebagai "objek wisata". Akibatnya, beberapa pembatasan diterapkan pada daerah-daerah tersebut, misalnya orang Toraja dilarang mengubah tongkonan dan tempat pemakaman mereka. Hal tersebut ditentang oleh beberapa pemuka masyarakat Toraja, karena mereka merasa bahwa ritual dan tradisi mereka telah ditentukan oleh pihak luar. Akibatnya, pada tahun 1987 desa Kete Kesu dan beberapa desa lainnya yang ditunjuk sebagai "objek wisata" menutup pintu mereka dari wisatawan. Namun penutupan ini hanya berlangsung beberapa hari saja karena penduduk desa merasa sulit bertahan hidup tanpa pendapatan dari penjualan suvenir.
Pariwisata juga turut mengubah masyarakat Toraja. Dahulu terdapat sebuah ritual yang memungkinkan rakyat biasa untuk menikahi bangsawan (Puang), dan dengan demikian anak mereka akan mendapatkan gelar bangsawan. Namun, citra masyarakat Toraja yang diciptakan untuk para wisatawan telah mengikis hirarki tradisionalnya yang ketat, sehingga status kehormatan tidak lagi dipandang seperti sebelumnya. Banyak laki-laki biasa dapat saja menyatakan diri dan anak-anak mereka sebagai bangsawan, dengan cara memperoleh kekayaan yang cukup lalu menikahi perempuan bangsawan.
Filosofi Tau
Secara sadar atau tidak sadar, masyarakat toraja hidup dan tumbuh dalam sebuah tatanan masyarakat yang menganut filosofi tau. Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia (manusia="tau" dalam bahasa toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat toraja. Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat toraja untuk menggapainya, antara lain: - Sugi' (Kaya) - Barani (Berani) - Manarang (Pintar) - Kinawa (memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan secara bebas karena memiliki makna yang lebih dalam daripada pemahaman kata secara bebas. Seorang toraja menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai Tau.
Terimakasih ,sekian :)

SUMBER :
Gambar : Google
Referensi
§  Adams, Kathleen M. (2006). Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism and Power in Tana Toraja, Indonesia. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-3072-4.
§  Bigalke, Terance (2005). Tana Toraja: A Social History of an Indonesian People. Singapore: KITLV Press. ISBN 9971-69-318-6.
§  Kis-Jovak, J.I.; Nooy-Palm, H.; Schefold, R. and Schulz-Dornburg, U. (1988). Banua Toraja : changing patterns in architecture and symbolism among the Sa’dan Toraja, Sulawesi, Indonesia. Amsterdam: Royal Tropical Institute. ISBN 90-6832-207-9.
§  Nooy-Palm, Hetty (1988). The Sa'dan-Toraja: A Study of Their Social Life and Religion. The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 90-247-2274-8.