Minggu, 16 Maret 2014

Cendana [ NUSA TENGGARA TIMUR ]


Cendana, atau cendana wangi, merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.
Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.[2]
Kayu cendana wangi (Santalum album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda.

Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.
Di Indonesia, kata "Cendana" sering digunakan oleh pers untuk menyebut sesuatu yang berkaitan dengan Soeharto, presiden R.I. yang kedua, dan orang-orang dekatnya. Alasannya karena rumah pribadi Soeharto beserta beberapa anaknya terletak di Jalan Cendana, Jakarta Pusat.
Ditinjau dari bahasa Belanda (sandelhout) dan bahasa Inggrisnya (sandalwood), kayu cendana diyakini berasal dari NTT khususnya Pulau Sumba. Hal ini dapat dilihat dari julukan Pulau Sumba, Sandalwood Island. Julukan ini dibawa turun temurun dari zaman penjajahan Jepang dan Belanda hingga sekarang.

Sumber ; http://id.wikipedia.org/wiki/Cendana

Senin, 10 Maret 2014

Wayang Srikandi


DEWI SRIKANDI adalah putri kedua Prabu Drupada, raja negara Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini.
dewi Srikandi mempunyai dua orang saudara kandung bernama; Dewi Drupadi/Dewi Kresna dan Arya Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah.
Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya.
Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putra.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita.
Dewi Srikandi bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya.
Dalam perang Bharatayuda, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, satria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Resi Bisma, senapati Agung balatentara Kurawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Resi Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, putri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Resi Bisma.
Akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan : Ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Astina setelah berakhirnya perang Bharatayuda.

DEWI WARA SRIKANDI
Dewi Wara Srikandi adalah putri Prabu Drupada, raja negara Cempalareja. Waktu rnasih remaja putri ia berguru memanah pada Raden Arjuna. Kernudian ia diperistri Raden Arjuna.
Asal mula Srikandi berguru memanah pada Arjuna ialah, ketika ia menonton kawinnya Arjuna dengan Sumbadra, melihat tingkah laku kedua pengantin itu dan ingin menjadi pengantin pula.
Pada suatu hari Srikandi melihat Arjuna mengajar memanah gundiknya, Rarasati. Lalu datang Srikandi pada Rarasati untuk belajar memanah. Tetapi ini sebenarnya hanya cara untuk bisa bertemu dengan Arjuna.
Tingkah laku Srikand ini menjadikan murka Dewi Drupadi, permaisuri Prabu Puntadewa dan kakak perempuan Srikandi. Drupadi menganggap kurang baik perbuatan adiknya itu.
Menurut adat susila Jawa, seorang gadis dulu dilarang melihat pengantin.
Tetapi jaman berobah dan gadis-gadis mengerumuni pengantin sekarang dianggap biasa.
Dewi Wara Srikandi pernah dipinang oleh seorang raja, Prabu Jungkungmardea dari negara Parangkubarja. Prabu Drupada tertarik untuk menerima lamaran itu, tetapi Srikandi lalu mengadu pada Anjuna.
Srikandi dibela Arjuna dan di dalam perang yang terjadi, mati terbunuhlah Jungkungmardea. Selanjutnya Srikandi diperistri oleh Arjuna dengan adat kebesaran perkawinan seorang pangeran dengan seorang putri.
Tabiat Srikandi seperti laki-laki, gemar berperang dan oleh karena itu disebut juga putri prajurit. Hingga kini, wanita-wanita yang berani menentang hal-hal yang tidak baik, terutama yang mengenai bangsa Indonesia, disebut Srikandi-Srikandi.
Srikandi seorang putri yang gampang marah, tetapi kemarahannya lekas reda. Tanda bahwa ia sedang marah, membikin rujaklah ia dan memakannya sambil berkata-kaca keras tak berkeputusan.
Kalau sangat marah barang-barang pecah belah dipecahkannya dan burung-burung perkutut kepunyaan Arjuna dilepaskannya.
Amarah Srikandi jelas dilukiskan oleh dalang dan banyak menyebabkan penonton tertawa.
Di dalam perang Baratayuda, Srikandi diangkat sebagai panglima melawan Bisma yang menjadi pahlawan Korawa dan ditewaskan oleh Srikandi.
Srikandi seorang putri perwira yang senantiasa menjaga kehormatan suami, baik di masa damai maupun di masa perang.
Dewi Srikandi bukan saja berperang seperti yang biasa dilakukan orang. Di dalam perang Baratayuda pun ia berperang sebagai perjurit perwira.
Sehabis perang Baratayuda, Srikandi tewas oleh Aswatama karena dipenggal lehernya, sewaktu ia sedang tidur nyenyak.
Dewi Srikandi bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka mendongak, menandakan ia putri bersuara dencing. Bersanggul gede (nama bentuk sanggul). Berjamang dengan garuda membelakang. Sebagian rambut terurai bentuk polos. Berkalung bulan sabit. Berkain dodot putren (pakaian putri dalam kraton).
Srikandi berwanda: Goleng dan Patrem.

Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka – 1982


http://www.ki-demang.com/galeria256/index.php/wayang-aksara-s/436-srikandi-solo

Kembalikan Indonesia Ke-Indonesia

Kembalikan Indonesia Ke-Indonesia

Hai kali ini saya ingin menulis mengenai tulisan yang bertemakan Kembalikan Indonesia ke – Indonesia dan izinkan lah saya untuk membahas ini karena bertepatan dengan tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Oke saya ingin membahas mengenai suatu daerah di Indonesia , yang sangat membuat hati dan pikiran saya sangat terketuk . Karena begitu mirisnya keadaan disana. Bukan, bukan karena daerah ini tertinggal. Justru daerah ini merupakan suatu daerah dengan pendapatan yang lumayan besar dan bisa dibilang masyarakatnya maju karena merupakan salah satu tempat rekreasi yang sudah mendunia. Siapa yang tidak kenal daerah ini… Yapp benar sekali , daerah itu adalah BALI.

Bali merupakan salah satu tempat wisata di Indonesia yang jadi tempat favorit para wisatawan di penjuru dunia saat berkunjung ke Indonesia. Bagaimana tidak , pantainya yang sangat indah , dikelilingi oleh bebatuan yang asri dan karang-karang cantik yang dimana kita bisa menyelam sambil melihat ikan-ikan yang cantik dan wisata air nya seperti banana boat, diving , seluncur air membuat bali menjadi primadona di Negara nya sendiri.

Namun, dibalik keindahan panorama pantainya terselip suatu kemirisan dimana saat berada melihat liputan di televisi atau membaca berita di Koran mengenai pulau bali saya merasakan tidak ada lagi cita rasa bangsa ini disana. Saya memang belum pernah ke Bali, tetapi saya rasa dengan saya mencari tahu dan melihat tayangan di televisi itu sudah cukup menggambarkan bagaimana keadaan Indonesia di Bali. Dimana sebagian besar masyarakatnya kini sudah tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, melainkan menggunakan bahasa Inggris yang digunakan untuk keseharian bercengkrama dengan wisatawan asing. Saya mengerti fenomena ini terjadi semata-mata karena kemajuan teknologi dan modernitas yang terjadi disana. Seperti pendapat dari  Budayawan nasional Irman Syah yang saya kutip dari Republika.co.id , ia mengatakan bahwa "Di saat zaman modernisasi sekarang ini kita sendiri yang menganggap budaya kolot, sehingga kita sendiri yang telah membunuh budaya sendiri," kata dia.

Lebih lanjut dia mengatakan budaya asli Indonesia mulai bergeser ketika masyarakat mulai menganggap modernitas sebagai suatu budaya yang sempurna. "Ketika modern telah mengglobalisasi membuat tradisi menjadi malu menunjukkan dirinya sehingga kebudayaan menjadi menghilang dan ketika kita mulai menggali kebudayaan ketika itu kita temui kebudayaan telah dibunuh oleh modernisasi," katanya. Senin, 01 Juli 2013 www.republika.co.id

Memang ada benarnya , disaat kita mengikuti perkembangan jaman yang semakin hari semakin maju dan semakin berkembang. Tetapi apabila suatu keadaan ini tidak di tata dengan baik artinya tidak mempertahankan unsure kebudayaan negaranya sendiri maka akan berakibat dimana unsur bangsa itu sendiri yang akan pecah dan terbalap oleh kemodernisasian bangsa lain. Ini seharusnya bisa dijadikan sebagai suatu cambukan untuk sebagian besar warga Negara Indonesia , terutama didaerah-daerah yang memang menjadi pusat perhatian dunia seperti Bali.
Kemirisan yang terjadi di Bali adalah arsitektur rumah bali yang perlahan menghilang masyarakat kebanyakan tidak mengerti tentang apa yang dimaksud dengan arsitektur Bali, apakah menyangkut bentuk atap, bentuk bangunan, hiasan ornamen atau bahan bangunan yang dipergunakan. Seandainya orang Bali sudah tidak berminat lagi untuk mempergunakan arsitektur Bali, maka Bali akan menjadi asing di tanahnya sendiri. Karena perkembangan jaman dan perkembangan manusia, bangunan bertingkat tinggi akan segera merambah Bali. Kalau bangunan tingkat tinggi sudah merupakan suatu keharusan, karena menyelamatkan lahan dan menyikapi harga tanah yang mahal, maka Bali tidak ada bedanya dengan kota besar lainnya dan akan berubah menjadi kota metropolitan. Memang akan sangat disayangkan, namun itulah kenyataannya. Arsitektur Bali yang tersisa mungkin hanya terdapat pada bangunan Pura yang tetap bertahan selaras dengan perkembangan agama Hindu di Bali.
Banyaknya cafe-cafĂ© dan club-club malam yang semakin banyak membuat bali menjadi pulau yang disinggahi oleh wisatawan karena memukau dengan kehidupan malamnya. Disana tidak lagi kita jumpai musik-musik tradisional bali melainkan yang terdengar adalah music-musik barat yang disenangi oleh para wisatawan asing. Ya, bali memang sangat memanjakan para pendatang yang ingin berlibur disana terutama warga asing, dari mulai bahasa , kehidupannya , kebudayaan yang semakin lama semakin berkurang rasa kebangsaan nya. 


Tetapi masih ada beberapa orang-orang yang peduli akan Indonesia di bali Untuk itu marilah kita sama-sama menjaga agar negeri ini tidak semakin terjajah oleh kehadiran bangsa lain, karena secara tidak langsung efek modernisasi ini akan semakin membuat bangsa ini tertinggal di Negara nya sendiri apabila tidak diatur sedemikian rupa dan dikelola oleh kita sendiri untuk membuat Indonesia menjadi raja di Negara nya sendiri.

Sekian dan terimakasih..